Perdagangan Emisi Karbon (Carbon Trading) : Solusi Efektif Untuk Pelestarian Hutan Tropis dan Penghasil Devisa Negara
April 1, 2009
Hutan tropis merupakan salah satu unsur terpenting yang dapat mempertahankan keseimbangan alam. Secara biologis, hutan tropis merupakan ekosistem terkaya di bumi dan berperan penting dalam hidrologi regional, penyimpanan karbon, dan iklim global . Namun perusakan hutan tropis dengan cepat terus berlanjut, dengan sekitar 13 juta hektar hutan dihabisi setiap tahunnya. Laju penggundulan hutan yang sedemikian tinggi telah berpengaruh besar terhadap perubahan iklim global. Berbagai sebab telah melatarbelakangi perusakan hutan tersebut.
Pada beberapa dekade lampau, penebangan hutan lebih disebabkan oleh pembukaaan lahan pertanian tradisional. Dari tahun 1960an-1980an, penggundulan hutan tropis ditiupkan secara luas oleh kebijakan-kebijakan pemerintah untuk pengembangan pedesaan, yang mencakup peminjaman untuk pertanian, pajak insentif, dan konstruksi jalanan, bersamaan dengan pertumbuhan populasi yang cepat di banyak negara berkembang. Kebijakan tersebut, terutama terlihat di negara-negara seperti Brazil dan Indonesia, mendorong munculnya gelombang arus yang dramatis para penduduk ke daerah perbatasan dan sering kali menyebabkan kerusakan hutan secara cepat. Dugaan bahwa para petani skala kecil dan peladang yang berpindah-pindah bertanggungjawab pada hilangnya hutan mengarah pada sebuah pendekatan konservasi seperti Integrated Conservation and Development Projects (ICDP), yang berusaha menghubungkan konservasi alam dengan pembangunan desa yang berkelanjutan. Dalam jangka waktu hanya 1-2 dekade, sifat dari perusakan hutan tropis telah berubah. TIdak lagi didominasi oleh petani desa, kini penggundulan hutan secara substansial digerakkan oleh industri besar dan globalisasi ekonomi, melalui pengumpulan kayu, penambangan minyak, pengembangan minyak dan gas, pertanian skala besar, dan perkebunan pepohonan eksotis yang menjadi sebab paling sering dari hilangnya hutan. Meningkatnya pengaruh kuat para perusahaan penggundul hutan juga memiliki sisi lemah. Industrialisasi dapat mempercepat kerusakan hutan, dengan hutan yang dulunya dipangkas secara langsung oleh petani-petani skala kecil saat ini dengan cepat dilindas oleh bulldozer. Lebih lagi, aktifitas industri seperti penebangan, penambangan, pengembangan minyak dan gas mendukung penggundulan hutan, tak hanya secara langsung tapi juga tak langsung, dengan menciptakan daya dorong ekonomi yang amat kuat untuk pembangunan jalan-hutanPada saat yang bersamaan, pasar finansial yang telah terglobalisasi dan tingginya komoditas dunia menciptakan sebuah lingkungan yang amat menarik bagi sektor swasta. Hal ini telah mendorong pengalihfungsian dari hutan lindung menjadi lahan perkebunan monokultur serta usaha pertambangan. Kebijakan perluasan perkebunan monokultur secara berlebihan, khususnya kelapa sawit, telah mengancam keanekaragaman hayati yang terdapat dalam hutan tropis. Organisasi lingkungan hidup telah memperingatkan bahwa dengan memakan makanan yang mengandung minyak kelapa, konsumen Barat secara langsung ikut membantu perusakan habitat orangutan dan ekosistem lainnya yang merupakan sumber berbagai plasma nutfah yang bermanfaat.serta banyak yang belum teramati keberadaannya.
Jadi, mengapa perkebunan kelapa sawit saat ini luasnya mencapai jutaan hektar mencakup Malaysia, Indonesia, dan Thailand? Kenapa kelapa sawit menjadi buah panen nomor satu, mengalahkan kompetitor lainnya seperti pisang, jagung, karet, kedelai, dan tebu
Jawabannya ada pada produktivitas panenan yang tidak sejalan. Sederhananya, kelapa sawit adalah bibit minyak yang paling produktif di dunia. Satu hektar kelapa sawit dapat menghasilkan 5.000 kg minyak mentah, atau hampir 6.000 liter minyak mentah.. Sebagai pembanding, kedelai dan jagung – hasil yang kerap digembar-gemborkan sebagai sumber bahan bakan biologis yang unggul hanya menghasilkan sekitar 446 dan 172 liter per hektar. Selain biofuel, kelapa sawit juga dipakaikan untuk beribu-ribu kegunaan lain dari bahan-bahan makanan ke pelumas mesin hingga dasar kosmetik. Kelapa sawit telah menjadi produk agrikultur yang sangat penting untuk negara-negara tropis di seluruh dunia, terutama saat harga minyak mentah mencapai 70 USD per barrel. Sebagai contohnya, Indonesia saat ini merupakan negara penghasil minyak kelapa terbesar kedua di dunia, perkebunanan kelapa sawitnya mencakup 5,3 juta hektar di tahun 2004. Indonesia telah mengumumkan rencananya untuk melipatgandakan produksi minyak kelapa mentahnya pada tahun 2025, suatu target yang akan membutuhkan 2 kali lipat peningkatan di hasilnya – sesuatu yang sangat mungkin melihat dari keberhasilan negara tetangganya Malaisya – atau justru memperluas daerah yang akan ditanami kelapa sawit. Laporan tersebut menyebutkan bahwa Indonesia sepertinya akan menggunakan kedua pilihan yang ada. Sesuai usulan investasi tahun 2005, yang dibuat oleh Perusahaan Perkebunan Negara PT Perkebunan Nusantara (PTPN), Indonesia akan mengembangkan sekitar 1,8 juta hektar di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia, dimana kebanyakan sisa hutan yang lengkap masih ada.Hal ini telah mengundang keprihatinan dari para pemerhati lingkungan hidup. Selain hilangnya ekosistem hutan, produksi minyak kelapa, seperti yang sedang dipraktekkan saat ini, dapat menyebabkan kerusakan yang cukup parah bagi lingkungan hidup. Kita dapat mengambil pelajaran berharga saat negeri tetangga kita, Malaysia menerapkan kebijakan perluasan perkebunan kelapa sawit tanpa mengindahkan etika lingkungan yang benar. Di tahun 2001, produksi Malaysia sebanyak 7 juta ton minyak kelapa mentah menghasilkan hingga 9,9 juta ton limbah minyak padat, fiber kelapa, dan batok, serta 10 juta ton limbah yang merusak dari minyak kelapa, yaitu campuran polusi dari batok yang hancur, air, dan residu lemak, yang mempunyai dampak negatif pada ekosistem akuatik. Lebih jauh lagi, penggunaan pestisida, herbisida, dan pupuk berbasis petroleum secara bebas membuat yakin bahwa kebanyakan pengolahan minyak kelapa tak hanya menyebabkan polusi pada tingkat lokal, namun juga berkontribusi pada emisi gas rumah kaca. Melihat Malaysia merupakan salah satu dari produser yang paling efisien, produksi di daerah lain mungkin lebih berpolusi. Perkebunan di Indonesia sangat merusak karenanya setelah 25 tahun masa panen, lahan kelapa sawit kebanyakan ditinggalkan dan menjadi semak belukar. Tanah mungkin akan kehabisan nutrisi, terutama pada lingkungan yang mengandung asam, sehingga beberapa tanaman mungkin tumbuh, menjadikan wilayah tersebut tanpa vegetasi selain rumput-rumput liar yang akan mudah sekali terbakar, Faktor pendapatan Negara sering dikedepankan dengan tidak mempedulikan dampak jangka panjang yang dapat ditimbulkan dari kebijakan pemerintah tersebut. Salah satu alternatif yang dapat diambil dalam menghadapi permasalahan yang dilematis antara pendapatan Negara atau kelestarian lingkungan hidup adalah melalui program perdagangan emisi karbon atau yang lebih dikenal dengan Carbon Trading. Penghindaran penggundulan hutan dan kredit karbon bernilai lebih dari kelapa sawit dan dapat menghasilkan nilai pajak yang lebih besar. Saat ini, Indonesia sedang melakukan taruhan makro ekonomi jangka panjang bahwa kelapa sawit akan bernilai lebih daripada menghindarkan penggundulan hutan. Di tahun 2004, pasar kelapa sawit memasukkan $43 juta pajak ke dalam kas negara Indonesia. Kredit karbon melalui penghindaran penggundulan hutan menawarkan kesempatan ekonomis untuk bisnis Indonesia. Bloomberg memperkirakan bahwa dengan mencegah terbuangnya 1 hingga 2 milyar ton karbon per tahun dapat menghasilkan US$ 39 juta tiap tahunnya. Walau perkiraan ini bisa dibilang tinggi, paling tidak Indonesia dapat menghasilkan hingga US$10 milyar per tahun dari penjualan kredit voluntary emissions reduction (pengurangan emisi sukarela – VER) ke pasar global. Ini diasumsikan bahwa permintaan stabil, namun sesungguhnya permintaan meningkat. Bahkan, penukaran nilai di pasar karbon Uni Eropa tahun lalu meningkat tiga kali lipat. Jika Amerika Serikat memutuskan untuk mengurangi emisi karbonnya hingga 20 persen pada tahun 2020 mengikuti Uni Eropa, ini akan menjadi permintaan yang mampu membeli seluruh karbon Indonesia pada tingkat premium. Indonesia dapat menjadi pemimpin global dalam menghindarkan penggundulan hutan. Indonesia dapat memberikan variasi lain di ekonominya sambil menurunkan ketidakstabilan ekonomi nasional yang menghasilkan peningkatan pengembangan masyarakat dan dana pendidikan serta meningkatkan kualitas air. Ini akan muncul bila Indonesia berinvestasi di penghindaran penggundulan hutan sebagai pembendung pasar global. Indonesia memiliki hampir 60 persen rawa-rawa lahan gambut, atau 20 juta hektar, yang bisa dipergunakan dengan mudah dalam pasar karbon. Dengan berkomitmen untuk terus melanjutkan ekspansi perkebunan kelapa sawit, Indonesia tak hanya meningkatkan penggundulan hutan yang mengakibatkan polusi aliran air dan berakibat pada rusaknya kesehatan, Indonesia membuka dirinya pada resiko pasar global dengan komoditas tunggal. Saat ini terdapat banyak metodologi yang dapat digunakan, sebagian darinya telah disetujui oleh Kyoto Protocol Clean Development Mechanism (CDM) dan sebagian oleh Chicago Climate Exchange (CCX). Sekarang, Indonesia bisa mendapatkan pemasukan kompensasi yang berlandaskan pasar melalui kredit karbon dan pengganti dari penghijauan hutan dengan menanam spesies asli menggunakan CDM dan program CDM, serta menggunakan penghindaran penggundulan hutan untuk mengurangi emisi dengan kredit CCX VER (pengurangan emisi sukarela). Indonesia tak lagi perlu menunggu, Indonesia dapat mulai menghasilkan uang sejak saat ini.Secara sederhana, mekanisme perdagangan karbon dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Negara berkembang yang memiliki kapasitas niremisi CO2 menghitung kapasitas dasar pengurangan karbon yang disajikan dalam skenario dasar
- Perhitungan emisi dasar tersebut dimasukkan dalam kapasitas pengurangan emisi atau yang dikenal dengan Emission Reductions (ERs). Perhitungan tesebut disajikan dalam Skenario Proyek
- Negara berkembang menjual kapasitas pengurangan emisi melalui proyek kepada negara industrialis (Negara maju)
- Negara maju sebagai penghasil emisi karbon menghitung kapasitas pembelian emisi CO2, volume pembelian, nilai pembelian yang didasarkan pada target pengurangan emisi karbon yang telah disepakati
- Negara maju akan membayarkan sejumlah uang, yang telah disepakati bersama, sebagai kompensasi atas pengurangan emisi karbon yang ditetapkan.
Langkah konkret yang dapat ditempuh oleh pemerintah serta masyarakat Indonesia dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Pemerintah Indonesia dapat menyetujui proyek awal penghindaran penggundulan hutan
- Masyarakat lokal Indonesia dapat menanam kembali hutan-hutan komunal mereka menggunakan spesies asli. Usaha ini akan menghasilkan hutan yang beragam yang dapat menimbun karbon, dan membuatnya sesuai untuk mendapatkan kompensasi dari metedologi yang dapat digunakan dengan CDM programatik dan CDM
- Kalangan bisnis di Indonesia dapat mendorong usaha-usaha yang dapat mencegah maraknya pengalihfungsian hutan tropis menjadi sektor komersial. Hal ini dapat ditempuh dengan mendorong masyarakat di lingkungan masing-masing untuk lebih aktif menanami lahan yang kurang produktif
- Penerapan sertifikasi ekologi pada produk-produk yang berasal dari alam. Hal ini akan mendorong perusahaan untuk ikut menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
- Perlu diadakan dialog antara kalangan ilmuwan, industri, serta masyarakat setempat mengenai kebijakan penggunaan lahan. Dengan demikian akan dicapai satu titik temu yang menjembatani seluruh kepentingan tersebut
Akhirnya menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai masyarakat Indonesia untuk melindungi kelestarian hutan tropis. Apakah kita tega dan tidak malu kepada anak cucu kita dengan mewariskan kehancuran hutan kita?.Apakah kita akan membiarkan anak cucu kita mengalami berbagai penderitaan sebagai akibat kerusakan hutan?. Semua pertanyaan tersebut akan berpulang kepada komitmen kita bersama untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara Zamrud Katulistiwa.
Oleh : Baskoro Aji, St
Entry Filed under: Lingkungan Hidup. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed